Rabu, 08 April 2009

COMBINE ECTOPIC PREGNANCY

COMBINE ECTOPIC PREGNANCY : Laporan kasus
Rusbandi
Rumah Sakit Ibu dan Anak RESTU IBU
Sragen - Jawa Tengah

ABSTRAK
Latar belakang : Frekwensi kehamilan ektopik sulit ditentukan, karena tidak semuanya berakhir dengan abortus atau ruptur. Ada yang mati beberapa hari terlambat haid kemudian diresorbsi tubuh tanpa menimbulkan keluhan, tanda dan gejala.
Combine ectopic / heterotopic pregnancy merupakan kehamilan intra uterin terdapat pada waktu yang sama dengan kehamilan ekstra uterin. Angka kejadiannya sangat sedikit, pada populasi umum dilaporkan 1 : 40.000 persalinan dan 1 : 353 kehamilan ektopik terganggu (Reece and Associates, 1983); 1 : 30.000 kehamilan (De Voe and Pratte 1984); 0.6 – 2.5 : 10.000 kehamilan (Bello GV et al, 1986); 1 : 2600 kehamilan (Bright and Gaup, 1990). Di Indonesia dilaporkan 5 kasus, sedangkan kehamilan dengan program infertilitas (IVF, GIFT atau embryo transfer) angka kejadianya lebih tinggi yaitu 0.93 % (Molloy et al 1990); 0.9 % (Dor et al 1991); dan 2.9 % (Dimitry et al 1990).
Gejala, tanda serta pemeriksaan penunjang yang tidak lengkap kurang membantu dan bahkan membuat diagnosis tidak benar. Diagnosis ditegakkan setelah dilakukan laparotomi.
Kasus : Seorang wanita 23 tahun, datang ke RSIA Restu Ibu hamil 8 minggu (HPHT 05-09- 07) dengan nyeri perut bagian bawah dan perdarahan sedikit – sedikit. Satu minggu yang lalu dirawat di rumah sakit yang sama dengan diagnosis hyperemesis gravidarum. Pemeriksaan phisik – obstetri dan pemeriksaan penunjang (USG dan Laboratoris) mendukung diagnosis abortus imminens, walaupun diagnosis kehamilan ektopik yang terganggu belum dapat disingkirkan (sebagai deferensial diagnosis). Penderita istirahat total dirawat sebagai abortus imminens. Selama 15 jam perawatan penderita masih merasakan sakit perut bagian bawah walaupun berkurang, pada pemeriksaan laboratorium serial menunjukkan penurunan Haemoglobine yang bermakna, penderita tampak agak pucat, disimpulkan sebagai curiga kehamilan ektopik yang terganggu, kemudian dilakukan tindakan laparotomi percobaan. Pada laparotomi didapatkan perdarahan intra abdominal kurang lebih 100 cc, adanya tuber abortion pada tuba kanan. Ovarium kanan tampak membesar berpapil kecoklatan. Tuba dan ovarium kiri dalam batas normal, uterus lembek sebesar telur bebek besar (kesan ada kehamilan intra uterin). Diputuskan dilakukan salpingektomi dekstra. Hasil pemeriksaan pathologi anatomi menunjukkan jaringan tuba yang sebagian besar nekrotik, perdarahan luas dengan villi fibrotik (sisa kehamilan tuba). 10 minggu kemudian (24 -01-08 ) dilakukan USG ulang tampak 1 janin hidup intra uterine sesuai umur kehamilan 19 minggu
Kata kunci : combine ectopic pregnancy, laparotomi percobaan, tuber abortion

COMBINE ECTOPIC PREGNANCY ( laporan kasus )
Rusbandi
Rumah Sakit Ibu dan Anak RESTU IBU
Sragen – Jawa Tengah
Maret 2008

Pendahuluan
Kehamilan ektopik pada siklus haid biasa didiagnosis bila sudah terganggu dengan tanda dan gejala yang khas (amenorhea, nyeri perut bagian bawah, pucat / anemis, gravindex test positif, adanya cairan intra abdominal pada pemeriksaan USG) apalagi kalau kehamilan tersebut bersamaan dengan kehamilan intra uterin (combine / heterotopic pregnancy) diagnosis ditegakkan biasanya durante operationem. Pemeriksaan USG convensional (bukan 3 atau 4 dimensi) yang tidak cermat membuat pemeriksa salah interpretasi sehingga pengelolaan penderitapun tidak sesuai. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus atau ruptur karenanya sulit untuk menghitung angka kejadiannya. Tidak sama halnya bila kehamilan ektopik terjadi pada wanita dengan program fertilitas (induksi ovulasi, invitro fertilisation / IVF atau GIFT / Gamet intra fallopian transfer) kejadian kehamilan ektopik lebih awal diketahui karena perkembangan proses fertilisasi diikuti dengan seksama setiap saat.
Combine ektopik pregnancy merupakan kehamilan intra uterin terdapat pada waktu yang bersamaan dengan kehamilan ektopik / ekstra uterin. Angka kejadiannya sangat jarang pada kehamilan dengan siklus haid biasa dilaporkan 1 : 40.000 persalinan dan 1 : 353 kehamilan ektopik yang terganggu (Reece and Associates, 1983);1 : 30.000 kehamilan (De Voe and Pratte, 1984); 0,6 – 2,6 : 10.000 kehamilan (Bello GV et al, 1986); 1 : 2600 kehamilan (Bright and Gaup, 1990). Di Indonesia dilaporkan 5 kasus. Angka kejadian combine ectopic pregnancy pada program fertilisasi jauh lebih tinggi yaitu 0.93 % ( Molloy et al 1990), 0.9 % (Dor et al, 1991) dan 2.9 % ( Dimitry et al, 1990).
Gejala kehamilan ektopik yang terganggu tidak sepenuhnya jelas, ada penderita yang rasa ambang sakitnya kuat sekali, sehingga walaupun sudah terganggu kadang tidak menimbulkan rasa sakit dan masih tampak seperti orang sehat. Penderita bahkan menyangkal apa yang dikatakan pemeriksa, keadaan seperti inilah menyebabkan diagnosis tidak benar .
Laporan Kasus : 13 Nopember 2007 jam 00.30 Seorang wanita GIII PI AI umur 23 tahun hamil 8 minggu (HPHT 05-09-07) datang ke RSIA Restu Ibu dengan keluhan nyeri perut bagian bawah, perdarahan pervaginam sedikit. Seminggu sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama dengan diagnosis hyperemesis gravidarum.
Anamnesis
Identitas penderita : Nama : Ny. SRH (23 tahun), pekerjaan : wiraswasta, pendidikan : SLTA, nama suami : Tn. NWT (27 tahun), pekerjaan : wiraswasta, pendidikan : SLTA, alamat : Sragen. Riwayat Haid : Haid teratur, tak sakit waktu haid, lama 5 hari, HPHT 05-09-07,
Riwayat perkawinan : menikah 1 kali sudah 4 tahun
Riwayat persalinan :
1. Laki-laki 3tahun, partus spontan ditolong bidan berat lahir 3000 gr saat ini sehat.
2. Abortus incompletus di curet sejawat ahli kebidanan
3. kehamilan sekarang ini
Riwayat penyakit / operasi yang pernah dialami : disangkal
Kontrasepsi yang pernah dialami adalah suntikan depoprovera (2 tahun) dan sudah 1 tahun ini tidak menggunakan kontrasepsi apapun.

Pemeriksaan phisik :
Keadaan umum baik, sadar, tak tampak sakit, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 x/mnt, suhu 37 °C .
Kepala, leher, anggota gerak, anggota badan tak ada kelainan. Paru-paru dan jantung dalam batas normal.
Pada pemeriksaan abdomen : Inspeksi : perut tampak datar tidak kembung,
Palpasi : tidak nyeri tekan pada perut semua bagian.
Perkusi : pekak alih tidak ada, pekak sisi normal
Auskultasi : peristaltik usus dalam batas normal
Pemeriksaan dalam / vaginal toucher :
Fluksus (+), fluor (-), vulva, urethra, vagina dalam batas normal, portio cervisis uteri sebesar jempol tangan licin, tidak nyeri goyang (slinger pain tak ada), osteum uteri eksternum tertutup, corpus uteri sebesar telur angsa, adneksa / parametrium tak teraba masa tumor dan tidak nyeri tekan.



Pemeriksaan Laboratorium :
1. Gravindex test dengan test pack positif hamil (satu minggu yll)
2. Darah rutin : WBC 10.7 /µL, RBC 3.02 /µL, HGB 10.8 g/dL, HCT 24.0 %, MCV 79.5 fL, MCH 26.5 pg, MCHC 33.3 g/dL, PLT 210 /µL, RDW 14.6 %, PDW 13.3 fL, MPV 10.8 fL, P-LCR 30.3 %. Golongan darah O
Pemeriksaan penunjang : USG tanpa print out, tampak uterus membesar, kantong janin (+) intra uterin sesuai dengan kehamilan 8 minggu, bintik janin / fetal plate belum kelihatan. Tidak tampak masa tumor atau cairan intra abdominal. Kesan suatu kehamilan intra uterin sekitar 8 minggu.
Diagnosis sementara : Abortus imminens
Pengelolaan : Istirahat total, roborantia dan alilestrenol
Perjalanan penyakit penderita :
13 – 11 – 2007 jam 07.00 keluhan nyeri perut dan perdarahan sudah berkurang,
13 – 11 – 2007 jam 12.00 penderita mengeluh kesakitan, tampak pucat, perut agak kembung, pada palpasi didapatkan nyeri tekan perut bagian bawah, vaginal toucher didapatkan nyeri goyang (+). Pada pemeriksaan darah HGB 8.0 g/dL. Disimpulkan adanya perdarahan intra abdominal, kehamilan ekstra uterin terganggu belum dapat disingkirkan. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan laparotomi percobaan,
13 – 11 – 2007 jam 16.30 dilakukan laparotomi percobaan, tampak perdarahan intra abdominal kurang lebih 100 cc, tampak adanya tuber abortion pada tuba uterina dekstra. Uterus membesar sebesar telur bebek sesuai kehamilan 8 minggu, dipikirkan adanya kehamilan intra uterine dan didiagnosis durante operationem sebagai combine ectopic (heterotopic) pregnancy. Diputuskan untuk dilakukan salpingektomi dekstra dan kehamilan intra uterin dipertahankan.
14 – 11 – 2007 Hasil pemeriksaan pathologi anatomi dengan no.lab H.07003070, sediaan tuba menunjukkan jaringan yang sebagian besar nekrotik, perdarahan luas dengan villi fibrotik, tak tampak tanda ganas, kesimpulan : sisa kehamilan tuba
23 – 11 – 2007 Selama perawatan pasca operasi kondisi penderita membaik, dan pada hari ke sepuluh pasca bedah, dilakukan USG tanpa print out tampak uterus membesar, kantong janin intra uterin, air ketuban (+), fetal plate (+), fetal heart movement (+) dengan CRL = 24mm = 9 minggu
24 – 1 – 2008 dilakukan USG dengan print out tampak satu janin hidup intra uterin, BPD = 4,65 mm = 20.20 minggu dan pada saat tulisan ini dibuat penderita masih dalam pengawasan kehamilan 30 minggu.




DISKUSI
Angka kejadian : Kehamilan heterotopik sangat jarang terjadi, pada populasi umum dengan siklus menstruasi biasa dilaporkan peneliti angka kejadianya adalah 1 : 40.000 persalinan dan 1 : 353 kehamilan ektopik yang terganggu (Reece and Associates, 1983); 1 : 30.000 kehamilan (De Voe and Pratte, 1984); 0,6 – 2,6 : 10.000 kehamilan (Bello GV et al ,1986); 1 : 2600 kehamilan (Bright and Gaup, 1990). Di Indonesia dilaporkan 5 kasus. Angka kejadian combine ectopic pregnancy pada program fertilisasi jauh lebih tinggi yaitu 0.93 % (Molloy et al, 1990); 0.9 % (Dor et al, 1991) dan 2.9 % (Dimitry et al, 1990).
Saat ini peningkatan angka kejadian dikaitkan dengan :
1. Meningkatnya angka kejadian PID (Pelvix Inflamatory Disease)
2. Meningkatnya angka kejadian tindakan bedah mikro pada tuba uterina bermasalah
3. Meningkatnya angka kejadian induksi ovulasi pada kasus infertilitas
4. Meningkatnya angka kejadian penggunaan alat tehnik reproduksi seperti IVF / GIFT
Pemakaian IUD tidak menjamin untuk tidak terjadi kehamilan ektopik maupun heterotpik dan hanya mampu mencegah kehamilan intrauterine. Di Sragen khususnya di RSIA Restu Ibu yang baru berdiri 2 tahun, kasus ini merupakan kasus yang pertama dan bahkan sejak 15 tahun selama penulis bertugas di kota Sragen.
Angka kejadian kehamilan heterotopik pada program infertilitas jauh lebih tinggi dari pada yang terjadi pada populasi umum, karena pada program tersebut selain embryo yang ditransfer kedalam intra uterin lebih dari satu, setiap saat perkembangan pertumbuhan embryo dimonitor dan dievaluasi, sehingga kejadian abnormal seperti kehamilan heterotopik atau ektopik lebih awal diketahui, bahkan sebelum terganggu pun sudah bisa dimonitor.
Gejala dan tanda : Apabila seorang wanita dewasa ada riwayat amenorhoea, nyeri perut bagian bawah perlu diwaspadai adanya kehamilan ektopik / heterotopik yang terganggu. Riwayat infertilitas, radang panggul, proses pengobatan infertilitas, akseptor IUD adalah pendukung terjadinya kehamilan ektopik. Pada pemeriksaan phisik didapatkan tanda - tanda abdomen akutum yaitu perut kembung, ada pekak alih dan pekak sisi , penderita tampak pucat, lemah dan tanda – tanda shock. Pada pemeriksaan dalam / vaginal toucher didapatkan perdarahan sedikit / fluksus (+), cavum douglas menonjol, ada nyeri goyang servix / slinger pain. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan ruptur atau abortus tuba dan terganggu, ada yang mati kemudian resorbsi tanpa menimbulkan gejala apapun.
Pada kasus ini awal datang ke RSIA maupun 1 minggu sebelumnya pada perawatan yang pertama tidak menunjukkan gejala yang khas, sehingga didiagnosis sebagai abortus imminens, baru perkembangan pesakitan berikutnya mendukung ke arah perdarahan intra abdominal dicurigai adanya kehamilan ektopik terganggu / bukan heterotopik, dan setelah durante operationem dipastikan adanya kehamilan heterotopik.

Pemeriksaan penunjang :
1. Laboratorium - Gravindex test (+)
- Adanya penurunan kadar haemoglobine darah serial yang bermakna
- Kadar β hCG, pada murni kehamilan ekstrauterine kadarnya lebih rendah dari kehamilan intrauterin (1700 mIU/ml) pada umur 6.5 minggu kehamilan. Akan tetapi pada kehamilan heterotopik kadar β hCG normal seperti kehamilan intra uterin.
Pada kasus ini kadar βhCG tidak diperiksa karena selain mahal, hasilnya harus menunggu waktu, dan yang jelas pemeriksa tidak menduga adanya kehamilan heterotopik.
2. USG tampak gambaran hasil konsepsi intra uterin dan ekstra uterin, cairan dan masa intra abdominal. Pada kasus ini tidak tampak gambaran kehamilan ekstra uterin (gestasion sac, maupun masa dan cairan intra abdominal), sehingga pemeriksaan USG tidak ada print outnya. Sedangkan USG pada saat dicurigai adanya kehamilan ektopik terganggu fasilitas kertas print outnya yang habis.

3. Pemeriksaan douglas punksi didapatkan bekuan darah, menunjukkan adanya timbunan darah intra abdominal, khususnya di cavum douglas. Pada saat ini douglas punksi jarang dikerjakan dan mulai ditinggalkan, selain menimbulkan rasa sakit dan komplikasi perforasi rectum dengan pemeriksaan penunjang yang lain terutama USG dan gejala klinis sudah cukup untuk mendiagnosis kehamilan ektopik terganggu. Pada kasus ini juga tidak dikerjakan.
Diagnosis : Pada populasi umum, diagnosis kehamilan heterotopik ditemukan biasanya pada saat di meja operasi, sedangkan preoperative perhatiannya lebih ditujukan pada kehamilan ektopik yang terganggu. Di samping angka kejadiannya sangat jarang pemeriksaan phisik tidak bisa membedakan kehamilan ektopik dan heterotopik, sedang pemeriksaan penunjang (USG) yang kurang cermat menyebabkan diagnosis menjadi lain seperti pada kasus ini. Diagnosis kehamilan heterotopik walaupun sulit apalagi pada populasi umum akan tetapi bila kita melakukan anamnesis, pemeriksaan phisik dan pemeriksaan penunjang dengan hati-hati dan seksama serta bisa menggabungkan hasil pemeriksaan itu, akan kita dapatkan diagnosis kehamilan heterotopik tersebut dengan benar.
Pengelolaan :
1. Operatif laparatomi / laparoskopi dikerjakan pada kasus yang datang dalam kondisi / gejala abdomen akutum, bila terjadi kehamilan pada tuba uterina dilakukan salpingektomi atau salpingostomi, tergantung keadaan dan kebutuhan penderita pada saat itu. Kehamilan intra uterine yang terjadi bersamaan, biasanya tidak terpengaruh karena tindakan pembedahan ini, seperti kasus yang dibahas sekarang ini. Kehamilan intra uterinenya dipertahankan karena sangat diharapkan dan saat ini sudah usia kehamilan 30 minggu dalam kondisi baik.
2. Non operatif, metode ini sekarang mejadi lebih populer yaitu dengan memberikan suntikan intra gestational sacus (seperti misalnya salpingocentesis) dengan bantuan tranducer USG, suntikan yang diberikan adalah sytostatika methotrexate, atau potasium klorida. Karena methotrexate mempunyai efek kontraksi pada uterus sering berakibat abortus pada kehamilan intra uterinnya sehingga jarang digunakan lagi. Pilihan utamanya adalah dengan Potasium klorida. Tindakan yang terakhir ini dikerjakan biasanya pada kehamilan heterotopik program infertilitas, di mana kehamilan tersebut terjadi, diketahui lebih awal dan belum terganggu. Potasium khlorida menjadi penting di sini karena tidak berakibat apa - apa pada kehamilan intra uterinnya. Cara pemberian dengan suntikan intra gestational sacus dengan bantuan tranduser USG, pada dosis 4 ml akan berakibat terjadinya asystole pada jantung janin. Cara ini efektif karena tanpa melakukan pembedahan, peralatan dan waktu yang dibutuhkan minimal di samping komplikasi yang hampir tidak pernah ada.. Kehamilan intra uterin yang ada tidak terpengaruh dengan tindakan tersebut. Michael D. Scheiber mengatakan bahwa setelah hasil konsepsi mati pasca injeksi potasium klorida akan mengalami resorbsi sempurna tanpa menimbulkan jejas beberapa waktu kemudian, sehingga kemungkinan kehamilan berikutnya masih sangat besar.
Kesimpulan
Telah dilaporkan satu kasus 8 minggu kehamilan heterotopik di RSIA Restu Ibu Sragen, yang didiagnosis saat di meja operasi. Telah dilakukan salpingektomi dekstra pada kehamilan ektopiknya sedang yang intrauterine berkembang baik sampai sekarang sudah 30 minggu.
Kehamilan heterotopik, angka kejadiannya sangat jarang dan pada populasi umum sering didiagnosis pada saat di meja operasi. Preoperative perhatiannya ditujukan pada kehamilan ektopik terganggu.
Angka kejadianya meningkat tajam pada program infertilitas, karena selain gamet / embryo yang ditransfer ke dalam intra uterine lebih dari satu, setiap saat dimonitor perkembangan janin, sehingga sebelum terganggupun kehamilan heterotopik atau ektopik cepat diketahui.
Diagnosis bisa diketahui dengan cepat dan benar bila anamnesis, pemeriksaan phisik dan penunjang dikerjakan dengan sangat hati – hati.
Terapi kehamilan heterotopik adalah dengan laparotomi / laparoscopi apakah laparatomi salpingectomy - salpingostomi menurut kebutuhan yang ada. Terapi tanpa operatif yang sekarang lebih populair seperti salpingocentesis yaitu dengan suntikan methotrexate atau potasium khlorida ke dalam kantong janin dengan bantuan tranduser USG, akan menyebabkan kematian janin tersebut yang kemudian alami resorbsi spontan.

Kepustakaan
1. Bello,G., Schnonholz,D.Moshirpur,J. Et al (1986). Combine pregnancy the Mount Sinai experience Obstet,Gynecol Surv., 41,603-613
2. Bright,D.A and Gaupp,F.B. (1990) Heterotopic pregnancy a reevaluation J Am. Board.Fam.Pract., 3 ,125-128
3. Chris Harrington ,J , RDMS, Edward A.Lyons,MD.(1993) Heterotopic pregnancy @ Harrington http://www. The fetus net/ page 1 - 11
4. De Voe,RW and Pratte, J.H. (1984) Simultaneous intrauetrine and extrauterine pregnancy AM.J.Obstet .Gynecol.,56,1119-1126.
5. Dimitry, ES., Subak-Sharpe, R,Mills, M et al.(1990) Nine case of heterotopic pregnancies in 4 years of in vitro fertilization Fertil .Steril., 53, 107-110
6. Dor,J.,Seidman,D.S., Levran, D et al.(1991). The Incidence of combined intrauterine and extrauterine pregnancy after invitro fertiliation and embryo transfer. Fertil. Steril., 55, 833 – 834
7. Molloy,D., Deambrosis, W.,Keeping ,D.et al (1990) Multiple site (heterotopic) pregnancy after invitro fertilization and gamete intrafallopian transfer. Fertil.Steril., 53, 1068 -1071.
8. Scheiber ,M.D., and Cedars, M.I., (1999). Succesful non surgical management of hetertopic abdominal pregnancy following embryo transfer with cryopreserved – thawed embryos. Human Reproduction, 14, 1375 -1377.
9. Reece, E.A., Petrie, R.H., Sirman.M.F.et al.(1983). Combined intrauterine and extrauterine gestations : a review Am.J. Obstet.Gynecol., 146, 323 -330.
10. Thakur,R., and Menabawey, M.El. (1996). Combined intrauterine and extrauterine pregnancy associated with mild hyperstimulation syndrome after clomiphene ovulation induction. Human Reproduction, 11, 1583-1584.
























1. COMBINE / HETEROTOPIC PREGNANCY ( laporan kasus )

@. Definisi - kehamilan intra dan extra uterine terjadi bersama
@. Tujuan _ kasus jarang
_ diagnosis sulit
@. Angka kejadian - dimasyarakat 1: 40.000
-. Program infertilitas 9 : 1000




2. LAPORAN KASUS

@. Wanita G111 P1A1 32 tahun hamil 8 minggu
@. 1 minggu sebelumnya – Hyper emesis gravidarum
@. Saat datang - perdarahan pervaginam , sedikit
Perut nyeri tekan
Laboratorium - gravindex test (+)
USG - Hamil intra uterine
Phisik - tak mendukung kehamilan ectopic
@. DX sementara Abortus imminens



3. Evaluasi penderita
@. 12 jam perawatan – nyeri perut bag.bawah
@. Penurunan kadar Hb yg bermakna
@. Curiga kehamilan ectopic terganggu
@. Laparotomi percobaan – informed consent penting !!
@. Tubair abortion dextra
@. Uterus membesar sesuai 8 minggu kehamilan  combine



4. Pasca bedah
@. USG hari ke 10  hamil intra uterin (+)
@. Pathologi Anatomi  sisa kehamilan tuba
@, USG 2 bulan kemudian  20 minggu kehamilan
@. USG 2 bulan kemudian  29 minggu kehamilan
 Presentasi bokong
@. USG 7 minggu kemudian  36 minggu kehamilan
 Presentasi bokong
@. Persalinan dengan ............ dst

5. Diskusi

A. Angka kejadian jarang
Dihubungkan dengan  P.I.D
 Bedah mikro tuba uterina
 Induksi ovulasi
 Tehnik reproduksi (IVF/GIFT)
 IUD


B. Gejala dan tanda
 Wanita dewasa dengan amenorhoea
 Nyeri perut bagian bawah
 Gejala bisa tidak khas ( tanpa gejala )
 Pucat, lemah tampak sakit, pingsan
 Pre shock  shock

C. Pemeriksaan penunjang
 Laboratorium  gravindex, β HcG, Hb
 USG
 Punksi douglast
 Laparoscopy


D. Diagnosis
@. Sulit  durante operationem
@. Arah pemikiran pada kehamilan ectopic terganggu
@. Informed consent jadi penting !!
@. Tidak selalu ruptur / abortion  mati  resorbsi


E. Pengelolaan
@. Sama seperti kehamilan ectopic terganggu
@. Kehamilan Intra uterine  dipertahankan
@. Operatif  Laparotomi , laparoskopi
 Salpingectomi, salpingostomi
 Evacuasi hasil konsepsi
@. Non operatif  Salpingocentesis dg bantuan USG
 Inj. Metothrexat / Potasium chlorida


6. Kesimpulan
@. Diagnosis combine ectopic pregnancy di masyarakat adalah sulit
Tidak sulit untuk program infertilitas
@. Angka kejadiannya sangat jarang,
Meningkat tajam pada program infertilitas.
@. Pengelolaannya dengan atau tanpa operatif tergantung situasi
dan kondisinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar