Rabu, 08 April 2009

hello, all of you ...

Artikel
SUPLEMENTASI VITAMIN A PADA BAYI BARU LAHIR MENGURANGI KEMATIAN BAYI DI PEDESAAN BANGLADESH
Rolf D.W.Klemm, MPH, DrPHa, Alain B.Labrique, Msc, MHS, PhDa, Parul Christian, MPH, DrPHa, Mahbubur Rashid, MBBS, MSc, MBAb, Abu Ahmed Shamim, MScb, Joanne Katz, MS, ScDa, Alfred Sommer, MD, MHSa, Keith P.West, Jr, DrPH, MPH, RDa
aCenter for Human Nutrition, Department of International Health, Bloomberg School of Public Health, Johns Hopkins University, Baltimore, Maryland; bJiVitA Maternal and Infant Health and Nutrition Research Project, Rangpur, Bangladesh.
ABSTRAK
TUJUAN : Kami menilai efek dari suplementasi bayi baru lahir dengan vitamin A 50.000 IU pada semua penyebab kematian bayi selama umur 24 minggu
METODE : Penelitian ini adalah communtiy based, double masked, cluster randomized, placebo controlled yang dilakukan di 19 wilayah pedesaan Bangladesh barat laut. Penelitian ini dilakukan dan diimbangi dengan terapi yang terkontrol dengan plasebo melalui percobaan mingguan suplementasi vitamin A atau -karoten pada ibu hamil. Penelitian terdiri dari beberapa sektor ( N = 596 ) yang dipilih secara acak untuk bayi baru lahir dengan partisipasi ibu untuk menerima sebuah suplemen tunggalmvitamin A ( 50.000 IU ) secara oral atau plasebo dalam bentuk droplet yang diteteskan dari sebuah kapsul gelatin. Ibu diberi inform consent untuk partisipasi bayinya saat usia kehamilan 28 minggu. Setelah kelahiran, di rumah ( > 90% kelahiran ) bayi diberi suplemntasi dan dicatat status vital mereka hingga usia 24 minggu. Hasil pengukuran yang penting adalah angka mortalitas selama usia 24 minggu.
HASIL : Kami mendapat persetujuan untuk 17116 bayi lahir hidup ( 99,8%) diantara 15937 ( 93,1% ) yang telah disuplementasi < 30 hari setelah kelahiran dan bayi yang status vitalnya diketahui selama usia 24 minggu. Bayi (n = 15902 {99,8%} ) menerima suplementasi pada usia median 7 jam. Dibandingkan dengan subjek kontrol, risiko kematian dari bayi – bayi yang disuplementasi vitamin A adalah 0,85, mencerminkan pengurangan 15 % pada semua kasus mortalitas. Perlindungan resiko relatif tidak dapat dibedakan dari jenis kelamin, usia kehamilan, berat lahir, usia saat disuplementasi, usia ibu hamil, paritas, atau persilangan 3 terapi dari percobaan suplementasi.
KESIMPULAN : Pemberian Vitamin A pada bayi baru lahir memperbaiki ketahanan tubuh anak selama 6 bulan pertama di Bangladesh. Hasil ini sesuai dengan penemuan sebelumnya dari penelitian di Indonesia dan India, serta memberikan bukti tambahan bahwa suplementasi vitamin A segera setelah kelahiran dapat menurunkan mortalitas bayi di Asia Selatan.
Pediatrics 2008; 122;e242-e250
Kata Kunci : vitamin A, mortalitas bayi, mortalitas neonatal, community trial,
Bangladesh, suplementasi
Daftar Singkatan :
IQR – Inter Quartil Range
DSMB – Data Safety And Monitoring Board
RR – Relative Risk
CI – Confidence Interval
GEE – Generalized Estimating Equation
NEC – Necrotizing Enterocollitis



PENDAHULUAN
Mengurangi angka kematian bayi merupakan tantangan utama kesehatan masyarakat di negara berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian utama lebih ditujukan pada kelahiran bayi yang aman, dengan intervensi efektif untuk memperbaiki ketahanan hidup. Kemudian diketahui bahwa untuk menurunkan mortalitas bayi selama 6 bulan kehidupan, penelitian yang lebih baru dilakukan, dimana suplementasi oral vitamin A yang diberikan segera setelah kelahiran mengurangi angka kematian bayi dikemudian hari. 2 percobaan acak terkontrol menggunakan placebo di Asia selatan menunjukkan penurunan signifikan pada mortalitas bayi setelah menerima vitamin A dosis tunggal dan besar ( 50.000 IU ), yang diberikan beberapa jam sampai dengan beberapa hari setelah kelahiran. Di Indonesia, Humphrey et al melaporkan 64% penurunan kematian dari 2067 rumah sakit ibu dan anak. Di India selatan, Rahmatullah et al mengamati 22% penurunan mortalitas selama 6 bulan kehidupan dengan community-based trial di antara 11619 bayi. Kedua penelitian tersebut menunjukkan suplementasi bayi baru lahir dengan vitamin A aman dengan mengingat efek simpang jangka pendek, serta di Indonesia dengan memperhatikan efek perkembangan bayi sejak dini dan pertumbuhan selama 3 tahun kehidupan. Akan tetapi, penemuan itu berlawanan dengan kekurangan ketahanan hidup pada populasi gizi kurang ketika sebuah vitamin A dosis tunggal dan besar diberikan selama usia 5 bulan kehidupan. Alasan perbedaan efek dari vitamin A sesuai umur belum jelas. Penelitian pada spesies lain mennyarankan bahwa deffisiensi vitamin A pada ibu hamil dapat menyebabkan perlambatan pematangan postnatal dan defisit fungsional paru serta jalan napas, saluran pencernaan, ginjal, jantung, dan sistem imun. Pada bayi prematur, yang diyakini beberapa kelompok berisiko mengalami deffisiensi vitamin A, pemberian vitamin A pada neonatal menunjukkan penurunan resiko bronchopulmonary dysplasia dan stress oksidatif. Di India, suplementasi vitamin A pada bayi baru lahir menurunkan risiko kolonisasi streptococcus pada nasofaring dan kematian karena diare maupun demam selama 6 bulan kehidupan. Efek potensial dari vitamin A yang diberikan membutuhkan perhatian ahli kesehatan masyarakat, khususnya di Asia selatan, dimana kematian bayi masih tinggi dan deffisiensi vitamin A pada bayi masih banyak dan menetap selama beberapa bulan kehidupan pertama. Untuk mengetahui lebih jauh tentang informasi ini, kami melakukan penelitian lapangan di Bangladesh barat laut untuk menilai keefektifan suplementasi oral vitamin A 50.000 IU pada bayi baru lahir dalam menurunkan kematian bayi selama 6 bulan kehidupan.
SUBJEK DAN METODE
Model Penelitian dan Populasi
Penelitian ini dinamakan JivitA-2 merupakan percobaan terbesar kedua yang dilaksanakan melalui program penelitian kesehatan nutrisi pada rural area, yang dinamakan JivitA. Program ini dilakukan pada daerah rural sekitar 435 M2 dengan populasi 650.000 jiwa, terdiri dari 19 bagian dari distrik Gaibandha dan Rangpur, Bangladesh. Berdasarkan pada data kesehatan, area ini merupakan area dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah dengan sedikit sarana infrastruktur yang menyokong nutrisi ibu dan anak, serta status kesehatan yang buruk. Sebelumnya wilayah ini merupakan wilayah dimana ditemukan kondisi buta di malam hari pada ibu hamil, dimana keadaan ini disebabkan defisiensi vitamin A. penelitian dilakukan pada bulan Januari 2004, memakai metode double-masked, kluster random dan terkontrol placebo yang meneliti keefektifan dari pemberian vitamin A oral ( 50.000 IU) pada bayi baru lahir untuk mengurangi kematian bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya. Percobaan ini dilakukan setiap minggu dengan kontrol placebo, dan vitamin A dosis rendah atau suplementasi beta karoten diantara wanita hamil, untuk mengevaluasi adakah efek pada kehamilan yang berhubungan dengan mortalitas sejak bulan agustus 2001.
Randomisasi dan Persayaratan
Peta dari daerah yang berkembang, rumah – rumah yang diberi nomor dan alamat, dan wanita menikah atau usia reproduktif dilaporkan dalam sebuah studi identifikasi. Daerah penelitian dibagi menjadi 596 grup yang lebih kecil dan ukuran yang dibandingkan masing – masing dengan nilai tengah dari 228 kepala rumah tangga ( IQR = 200 – 263 ), disebut sektor – sektor yang diperlakukan sebagai unit randomisasi. Sektor – sektor yang terdaftar secara geografis diacak dalam 4 blok, dimana 3 blok sebelumnya telah disuplementasi dengan terapi percobaan ( vitamin A, -karoten, dan plasebo, masing – masing 200 sektor ) untuk bayi lahir dengan menerima vitamin A 50.000 IU atau plasebo dalam bentuk minyak segera setelah kelahiran. Proses ini menghasilkan 2 kelompok bayi yang disuplementasi, masing – masing 298 sektor yang diimbangi dengan percobaan suplementasi maternal. Bayi lahir yang ibunya sudah diberikan inform consent diinklusikan ke dalam penelitian. Kami mengeksklusikan bayi lahir ( ibu sudah diberikan inform consent ) yang meninggal sebelum mendapat suplemen, dimana bayi tersebut lahir di luar area penelitian, dan bayi yang tidak bisa diberi suplementasi setelah kunjungan berulang oleh petugas selama 30 hari setelah kelahiran.
Kondisi Kehamilan dan Penilaian Maternal
Subjek wanita hamil didapat melalui survei dari kunjungan rumah selama 5 minggu berdasarkan waktu menstruasi terakhir subjek wanita hamil tersebut dikombinasikan dengan tes urin. Wanita – wanita tersebut diwawancara pada saat kehamilan 9 minggu mengenai keadaan sosial, riwayat morbiditas sebelumnya, termasuk kondisi buta malam hari, diet sehari-hari, dan faktor resiko lainnya. Wanita-wanita ini kemudian diukur lingkar lengannya untuk menentukan adakah malnutrisi atau tidak. Pada kehamilan 28 minggu, subjek diminta untuk mengambil sampel suplemen baik itu vitamin A maupun placebo, sebagai kompensasinya, subjek mendapat kartu kesehatan untuk mendapat perawatan selama masa kehamilan dan kesehatan janinnya. Pada kehamilan 32 minggu, subjek kembali diwawancara mengenai riwayat morbiditas yang terjadi, asupan gizin dan faktor resiko lainnya. Hal ini dilakukan kembali setelah 3 bulan post partum.
Melalui penelitian yang terdiri dari 32 penelitian berkesinambungan ( 3% dari penelitian yang ada , wanita hamil ( pada kehamilan trimester I sampai dengan III, serta 3 bulan post partum ) dan bayi mereka ( 3 bulan pertama ) dinilai kondisi klinisnya serta kondisi biokimiawinya setelah flebotomy dan heel stick ( pengambilan darah dengan kartu Milipore )yang digunakan untuk mengetahui perbedaan status kesehatan dan status vsitamin A ( retinol dalam plasma dalam bercak darah kering ) analisa biokimiawi ini dilakukan di laboratorium nutrisi di Institut nutrisi, Universitas Mahidol, Bangkok Thailand.
Intervensi dan Penilaian Bayi
Bayi baru lahir hidup diteliti langsung oleh para ahli sesaat setelah mereka lahir ( median : bayi berumur 7 jam )yang diberi suplementasi vitamin A 50.000 IU atau placebo. Suplemen yang diberikan pada kedua grup berupa kapsul gelatin yang sama dalam bentuk, ukuran, dan warna yang mengandung minyak. Suplemen ini langsung diberikan per-oral. Sebelum digunakan suplemen ini disimpan dalam suatu tempat yang terkontrol temperaturnya.
Setelah diberikan suplementasi, satu dari 56 wanita pengukur data antropometri mendatangi rumah-rumah subjek untuk mengukur berat, panjang, lingkar lengan atas, dan lingkar kepala bayi berumur rata-rata 18 jam. ( IQR : 9-36 jam ). Berat kelahiran diukur yang paling mendekati 10 gram menggunakan timbangan pediatri digital Tanita BD-585. Panjang diukur alat ukur yang disesuaikan dengan timbangan Tanita. Pengukuran lingkar lengan atas dan lingkar kepala menggunakan pengukur Ross ( dari Abbott Laboratorium, Columbus OH ). Pada saat melakukan kunjungan ini, antropometer juga menanyakan kepada ibu apakah mereka mendapati peningkatan adanya tanda pada puncak kepala bayi saat lahir, serta adakah pembengkakan di daerah itu. Laporan ini harus segera disampaikan pada antropemeter dalam waktu 24 jam setelah mereka menyadari hal tersebut. ( median : 1 hari, IQR : 0-1 hari ).
Tanda vital bayi dinilai setiap minggu di rumah selama 12 minggu pertama dan kemudian 24 minggu pertama. Pada umur 12 dan 24 minggu, wawancara mengenai faktor resiko yang terjadi sehubungan dengan pemberian ASI dan makanan tambahan dilakukan pada orang tua mereka.
Persetujuan penelitian ini dibuat oleh lembaga penelitian kedokteran Bangladesh, dibawah pengawasan menteri kesehatan dan kesejahteraan dari pemerintah Bangladesh, serta badan institusi John Hopkins, sekolah kesehatan masyarakat. Data independen dibuat sebanyak 4 kali untuk menjamin keamanan data dan hasil yang ada.
Ukuran sampel
Direncanakan untuk menggunakan 20.000 bayi sebagai subjek penelitian untuk mendeteksi reduksi minimum dari 15 % kematian bayi berumur 6 bulan dengan 80 % kekuatan yang diberikan pada nilai mortalitas bayi berumur 6 bulan pada area populasi yang diteliti dari 64 kematian tiap 1000 kelahiran bayi, setelah disesuaikan dengan efek 1 % karena randomisasi kluster. Jumlah kematian yang tidak diketahui yang terjadi sebelum bayi lahir dihitung oleh pekerja lapangan yang bekerja untuk penelitian pada Desember 2006. DSMB merekomendasikan penelitian untuk mengetahui hal-hal yang dapat diintervensi untuk mengurangi kematian bayi. DSMB memutuskan hal ini setelah melihat data dari 14.823 bayi ( 7394 : vitamin A, 7429 : placebo ) diikuti dengan bayi berumur 24 minggu yang menunjukkan 286 dan 343 kematian pada grup dengan suplementasi vitamin A dan pemberian placebo, menunjukkan resiko relatif sebesar 0.84 ( dengan confidence interval 95 % P: 0,3 ). Data analisis mengikut sertakan bayi berumur 24 minggu.
Analisis Statistik
Karakteristik dari wanita hamil dan bayi baru lahir mereka dibandingkan menurut grup-grup yang sudah ada, dengan mempertimbangkan komunitas, rumah tangga dan faktor resiko individual. Hasil paling awal adalah angka kematian pada umur 24 minggu pertama pada bayi yang telah diberi kunjungan dirumah dan diberi suplementasi. Analisis dilakukan dengan basis intensi, dimana bayi secara acak terdaftar pada tiap-tiap grup dan kunjungan termasuk pada analisis survival, dosis diberikan, dan kelahiran multipel ( n : 106 . RR dengan confidence interval 95 %dihitung menggunakan GEE model logistik regresi dan korelasi yang tidak dapat dibalik untuk menyesuaikan dengan efek desain penelitian. Efek desain ini 0.9%. sebagai tambahan , analisa terstratifikasi dilakukan pada bayi dan ibu dengan faktor resikonya yang diberikan suplementasi tambahan vitamin A, beta karoten atau placebo.
Dengan menggunakan analisis regresi logistik GEE, kondisi interaksi estimasi RR diletakkan pada level signifikasi 5 %. Analisis survival dari Kaplan-Meier digunakan untuk membandingkan perbedaan pada probabilitas kehidupan bayi baru lahir diikuti dengan 24 minggu pertamanya menurut grup yang diberi perlakuan, menggunakan test log-rank untuk menilai signifikasi statistik. Hasil dari semua analisa ini ditunjukkan menggunakan stata 9.1.
HASIL
Selama 2,5 tahun penelitian, 17155 bayi lahir dari ibu yang telah menyetujui informed consent pada usia kehamilan ~28 minggu, 8545 dimasukkan dalam kolompok vitamin A dan 8610 dalam kelompok kontrol plasebo. Dari data tersebut, sebanyak 39 ibu menolak bayinya diberi suplemen, 888 (5,20%) bayi bertahan hidup tetapi tidak dapat dikunjungi dan diberi suplemen sebelum usia 30 hari, 280 (1,60%) meninggal sebelum sempat dikunjungi dan 11 (0,01%) hilang kontak sehingga tersisa 15937 bayi dalam penelitian kohort selama 24 minggu (n vitamin A = 7953; n plasebo = 7984). Dalam penelitian ini terdapat 35 bayi yang pada awalnya orang tua bayi menolak bayinya diberi suplemen.
Karakteristik dasar dari ibu dan rumah tangga pada penelitian dibandingkan dengan masing-masing kelompok penelitian. Kedua kelompok menunjukkan bahwa 41% ibu berusia <20 tahun ketika hamil, 42% tidak memiliki pendidikan formal, 30% dengan lungkar lengan atas kiri <22 cm (menunjukkan adanya malnutrisi), dan ~10% mengalami buta senja pada kehamilan terakhir dengan kelahiran hidup. Selama penelitian diperoleh konsentrasi serum retinol vitamin A trimester I (rata-rata  SD) subjek penelitian dan kelompok kontrol sebesar 1,13  0,27 dan 1,17  0,34 μmol/ L dengan cutoff konvensional vitamin A (<1,05 μmol/ L) pada masing-masing kelompok sebanyak ~41% dan 36%. Sekitar 38%, 42% dan 46% ibu pada kedua kelompok tinggal dalam rumah tangga yang memiliki sepeda, ≥1 ekor ternak dan tanah garapan. 58% ibu pada kedua kelompok telah mengalami kehamilan ≥1 kali di mana ~25% mengalami ≥1 kehamilan yang berakhir dengan kematian fetus dan ~25% mengalami ≥1 kehamilan yang berakhir dengan kematian neonatus (data tidak terlampir).
Karakteristik yang berhubungan dengan persalinan dibandingkan pada kedua kelompok. >90% persalinan terjadi di rumah di mana <7% ditangani oleh petugas kesehatan (dokter atau bidan). Anak laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan. Sekitar 23% lahir preterm (usia kehamilan<37 minggu), berdasarkan riwayat menstruasi terakhir. Rata-rata (SD) berat badan lahir sebesar 2432 g (429) pada kelompok vitamin A dan 2428 g (429 g) pada kelompok plasebo; ~54% bayi dengan berat badan <2500 g dan ~14% <2000 g pada kedua kelompok. Rata-rata (SD) panjang, ukuran kepala, dada dan lingkar lengan atas 46,4 (2,5) cm, 32,4 (1,7) cm, 30,4 (2,2) cm dan 9,3 (0,9) cm, tidak ada perbedaan antarkelompok penelitian (data tidak terlampir). Inisiasi ASI dalam 12 jam kelahiran pada hampir separuh bayi dan 95% ibu dengan inisisasi ASI memberikan kolostrum. 79% bayi pada kedua kelompok memperoleh suplemen dalam 24 jam pertama kehidupan di mana 11% diberikan antara usia 1 dan 7 hari. Sedangkan sisanya sebanyak 10% diberikan antara usia 8 dan 29 hari.
Penonjolan fontanela jarang diperoleh dalam wawancara ibu dengan antropometris yang berkunjung pada pertengahan waktu <12 jam setelah pemberian supleman. Pada kelompok vitamin A dan kelompok kontrol, diperoleh laporan adanya penonjolan fontanela 154 (1,9%) dan 178 (2,2%) dari petugas lapangan, di mana 11 dan 12 kasus memperoleh konfirmasi klinis ~1 hari kemudian pada pemeriksaan oleh dokter. Tidak ditemukan laporan orang tua atau penemuan klinis adanya efek samping lain. Sekitar 77% bayi memperoleh imunisasi yang meliputi ≥1 dosis vaksin basil calmette-guerin (~72%); vaksin difteri, pertusis dan tetanus (~65%); atau vaksin polio (~73%; data tidak terlampir).
666 bayi meninggal pada usia 24 minggu dalam penelitian cohort sehingga diperoleh angka kematian sebesar 38,5 dan 45,1 kematian tiap 1000 kelahiran hidup pada kelompok vitamin A (306 dari 7953) dan kelompok plasebo (360 dari 7984). Resultan RR kematian pada kelompok vitamin A sebesar 0,85 (95% CI; 0,73-1,00; P=,045). Probabilitas bayi yang dapat bertahan hidup pada kedua kelompok secara signifikan berbeda (P=,037), dengan perbedaan pada grafik kurva setelah minggu I kehidupan. Pada usia 16 minggu, kedua kurva tampak paralel, menunjukkan hanya sedikit efek yang muncul pada usia tersebut.
Pemberian vitamin A nampaknya memberikan perlindungan terhadap kematian neonatus (0-28 hari; RR: 0,89) dan postneonatus (29-168 hari; RR: 0,77) selama usia 24 minggu, meskipun secara statistik keduanya tidak dapat dibedakan dan 95% CI RR yang diperkirakan pada kedua kelompok sebesar >1,00. Perlindungan RR akibat pemberian vitamin A ditemukan pada bayi baik laki-laki maupun perempuan dengan kelahiran preterm maupun term, meskipun tingkat kepercayaan 95% sebesar ≤1,00 hanya ditemukan pada bayi perempuan dan kelahiran term dengan usia kehamilan antara 37-44 minggu saat persalinan. RR protektif pada pemberian vitamin A ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir rendah (<2500) dan normal serta pada tiap pemberian postnatal. Uji dengan analisis regresi menunjukkan hasil yang tidak signifikan (,96>p>,13). RR protektif juga ditemukan pada bayi dengan suplemen vitamin A yang lahir dari ibu dengan usia, paritas dan suplementasi yang bervariasi, dengan interval antara 0,76-0,92 dan nilai p antara ,35-74.
DISKUSI
Bayi terlahir dengan simpanan vitamin A yang rendah terutama pada bayi preterm. Pada populasi bayi yang memperoleh nutrisi baik dengan tingkat risiko infeksi yang rendah, serum retinol tampak meningkat dengan stabil sehingga mencapai konsentras seperti pada orang dewasa pada beberapa bulan pertama kehidupan, di mana malnutrisi, defisiensi vitamin A pada saat lahir cenderung memburuk akibat efek kombinasi daripada ASI dengan kadar vitamin A rendah, makanan tambahan rendah vitamin A dan infeksi berulang bayi. Dalam penelitian yang dilakukan di Bangladesh ini, pemberian suplemen vitamin A pada bayi sebesar 50000 IU pada hari-hari pertama setelah kelahiran secara signifikan mengurangi kematian usia <6 bulan sebesar 15% dibandingkan pada bayi plasebo. Hasil ini sesuai dengan 2 penelitian awal di Indonesia dan India Selatan, di mana kematian bayi berkurang 64% dan 23% pada pemberian vitamin A segera setelah kelahiran.seperti pada penelitian sebelumnya, di Bangladesh, perbaikan mulai tampak pada bayi dengan suplemen vitamin A dalam minggu I kehidupan, dengan grafik kurva yang menunjukkan perbedaan sehingga minggu XVI kehidupan, di mana setelah lewat minggu tersebut hanya ditemukan sedikit perbedaan. Estimasi risiko kematian pada bulan I dan lima bulan berikutnya mencapai 11% dan 23%. Data yang diperoleh dari penelitian secara konsisten menunjukkan adanya efikasi dalam mengurangi kematian selama ~4 bulan.
Peneliti kesulitan dalam menemukan faktor risiko tertentu sebagai pembeda signifikan antara kelompok bayi perempuan yang lahir cukup bulan dari ibu yang telah mengalami paritas ≥1 dengan kelompok bayi laki-laki preterm dari ibu multipara. Tidak seperti penelitian di India yang menemukan adanya peningkatan harapan hidup pada bayi dengan berat badan lahir rendah dan di Indonesia pada bayi dengan berat badan lahir normal, pada penelitian ini efek vitamin A sulit dibedakan pada variabel berat badan. Variasi efikasi hanya menggambarkan perbedaan responsivitas populasi terhadap vitamin A atau hanya suatu kebetulan belaka.
Penelitian lain di Bangladesh menunjukkan bahwa infeksi saluran napas bawah dan diare merupakan penyebab utama kematian postneonatus. Di Indonesia, pasien yang datang ke klinik dengan keluhan batuk dan demam, dengan dugaan pneumonia berkurang pada bayi dengan suplemen vitamin A. Di India, vitamin A neonatus mengurangi kasus yang berhubungan dengan demam sebesar 40%, meskipun efek tersebut berkurang bila demam disertai gejala infeksi saluran napas. Sebuah penelitian serupa menunjukkan bahwa terdapat penghambatan signifikan selama ~2 bulan terhadap risiko kolonisasi S. pneumonia nasofaring, penyebab utama infeksi saluran napas infantil dan meningitis dan merupakan patogen saluran napas neonatus utama di Bangladesh. Penemuan ini sesuai dengan peran vitamin A dalam proteksi terhadap infeksi dengan menjaga keutuhan epitel (fungsi barrier) dan imunologis, juga sesuai dengan peran penting vitamin A dalam mengatur perkembangan dan fungsi paru, juga dalam ketahanan terhadap kerusakan selama masa embrio sampai dengan kehidupan neonatus pada beberapa jenis mamalia. Pemberian vitamin A pada neonatus juga mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit gastrointestinal. Pada bayi Indian dan Gambian yang diberi vitamin A, intergitas intestinal meningkat, yang terlihat pada tes permeabilitas intestinal laktosa:manitol, yang menunjukkan pemenuhan vitamin A pada neonatus dapat melindungi mukosa intestinal dan meningkatkan resistensi terhadap diare. Di Indonesia dan India selatan, kematian akibat daire berkurang 50-60% dibandingkan dengan kontrol, demikian juga pada penelitian terhadap bayi Indian. Pemberian vitamin A juga bermanfaat pada NEC dan sepsis. Pada neonatus kelinci percobaan, vitamin A dosis tinggi menstimulasi maturitas prekoks sel parietal dinding perut dan pada tikus, mempengaruhi diferensiasi dan maturitas sel epitel dinding perut dan usus kecil, menunjukkan peran penting vitamin A dalam normalisasi epitelisasi dinding perut pada awal masa kehidupan. Lesi yang dibuat menyerupai NEC pada tikus percobaan, dengan paparan asam butirat pada intestinum, tampak mengalami perbaikan pada tikus yang diberi vitamin A dibandingkan dengan pada tikus yang diberi larutan garam fisiologis.
Penatalaksanaan dini neonatus sampai bayi berisiko tinggi dapat menurunkan stress oksidatif. Pada manusia, hirupan ethana menurun relatif pada neonatus prematur yang diberikan vitamin A dibandingkan kontrol dengan plasebo, yang mencerminkan penurunan stress karena lipid peroksidatif sehubungan dengan NEC dan penyakit lain yang terlibat dalam susunan oksigen radikal. Defisiensi vitamin A apada ibu hamil juga dapat mempengaruhi ukuran dan struktur organ perinatal seperti ginjal, hati, jantung, dan sistem kardiovaskuler, yang relevan dengan mekanisme pertahanan hidup setelah suplementasi vitamin A pada neonatus.
Perubahan distribusi status gizi ibu hamil, maturitas kehamilan, ukuran bayi saat kelahiran, akses perawatan antenatal dan kebidanan, pola penyakit bayi dominan dan resiko mortalitas dapat mempengaruhi keefektifan intervensi nutrisi profilaksis pada bayi baru lahir, termasuk potensi tinggi dari vitamin A untuk neonatus. Beberapa populasi membuktikan pentingya meningkatkan evaluasi dari keefektifan yang bervariasi dari suplementasi vitamin A, sebagai contoh di Harare, Zimbabwe dimana vsuplementasi vitamin A segera setelah kelahiran tidak berpengaruh pada ketahanan hidup bayi. Akhir – akhir ini, di Afrika kekurangan data dari efek ketahanan hidup dan kesehatan dari suplementasi vitamin A.
Usia saat pemberian vitamin A, maturitas sistem organ yang penting, status gizi, penyakit, dan faktor lingkungan yang lain nampaknya memprngaruhi ketahanan hidup yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada bayi sejak dini. Sebagai contoh, di Nepal, India, Ghana, dan Peru hanya sedikit efek hingga tidak adanya efek pada risiko mortalitas yang diamati dari bayi yang disuplementasi vitamin A potensi tinggi dengan kontrol plasebo pada usia antara 1 – 5 bulan. Maka dari itu, keefektifan dari suplementasi periodik vitamin A dalam menurunkan mortalitas pada bayi dan anak – anak sejak dini telah dilakukan dengan baik.
Suplementasi vitamin A pada bayi baru lahir nampaknya aman, dengan memperhatikan efek simpang jangka pendek dan jangka panjang. Penonjolan fontanella anterior, biasanya didapatkan sebagai ekspansi jinak dari volume otak, adalah sebuah efek simpang yang berhubungan dengan pemberian vitamin A potensi tinggi. Rasio penonjolan fontanella yang berlebihan dari 1 %– 7% telah dilaporkan diantara bayi < 6 bulan yang diberikan vitamin A dibandingkan plasebo. Ketika diobservasi, penonjolan fontanella setelah pemberian vitamin A ditemukan melunak dan hilang dengan sendirinya, menghilang secara khas dalam 48 jam dan hampir seluruhnya dalam 72 jam, tanpa terapi dan gejala sisa. Penelitian paling komprehensif dari efek simpang yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada bayi baru lahir menemukan rasio yang berlebih dari penonjolan fontanela yang hilang sendiri sekitar 2% dari subjek yang menerima plasebo ( 4,5% vs 2,5% ), tanpa bukti perdarahan intrakrnial dari ultrasonografi doppler.
Pengamatan selama 3 tahun dari penelitian cohort membuktikan tidak adanya efek simpang yang berhubungan dengan adanya penonjolan fontanella baik secara kognitif, motorik, dan tes perilaku. Pada penelitian ini, dimana tidak secara definitif dalam penilaian efek simpang, dokter meyakinkan bahwa laporan orang tua dari penonjolan fontanella pada 48 – 72 jam setelah pemberian vitamin A dalam kisaran rasio < 0,4% pada kelompok vitamin A dan plasebo.




KESIMPULAN
Penemuan dari penelitian ini dan penelitian lain yang dilakukan di Asia selatan menyarankan pemberian suplemen oral vitamin A 50.000 IU dalam beberapa hari setelah kelahiran dapat menurunkan mortalitas hingga 15% atau lebih. Program suplementasi vitamin A yang adekuat, rutin, dan efektif pada bayi baru lahir membutuhkan pendekatan komunitas yang inovatif di Asia selatan, dimana > 90% bayi dilahirkan di rumah.
PENGAKUAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dilakukan oleh Departemen Kesehatan internasional, Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg, Universitas John Hopkins dengan dana bantuan dari perjanjian kooperatif Aktivis Riset Global GHS – A – 00 – 03 – 00019 – 00 antara Universitas John Hopkin dengan Kantor Kesehatan dan Nutrisi; Agen Amerika Serikat untuk Perkembangan Internasional ( Washington DC ); serta Yayasan Bill dan Melinda Gates ( Seattle, WA ) grant 614 ( Global Control of Micronutrient Deficiency ). Bantuan dan dukungan juga diberikan oleh Sight and Life ( Basel, Switzerland ), The Sight and Life Research Institute ( Baltimore, MD ), Nutrilite Heath Institute ( Nutrilite Division, Access Business Group, LLC, Buena Park, CA ), The Canadian Internatinal Development Agency, dan The National Integrated Population and Health Program of the Ministry of Health and Family Welfare of The Government of The People’s Republic of Bangladesh.
Kami secara khusus berterima kasih pada anggota DSMB internasional, Drs Nancy Sloan, Anthony L. De Costello, James Tonascia, Mamunar Rashid, dan Sameena Chowdhury. Penghargaan juga kami berikan kepada JivitA Project National adviser, Dr Halida Akhler, staff senior dari JiVitA Project, Drs Barkat Ullah, Hasmot Ali, Shafiul Alam, Shahab Uddin, Rashedujjaman, dan Sayeda Khatun Sharifa, Ummeh Taslima Arju, The JiVitA Field Management Team, dan anggota dari Center for Human Nutrition Data Management Team Allan Massie, Lee Shu-Fune Wu, Malthilee Mitra, dan Andre Hackman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar