Rabu, 08 April 2009

LIKEN SIMPLEK KRONIS

I. SINONIM
Neurodermatitis sirkumskripta, Liken Vidal

II. DEFINISI
Liken simpleks kronis adalah peradangan kulit kronis, gatal sekali, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena stimulus pruritogenik yang bervariasi.

III. EPIDEMIOLOGI
Liken simpleks kronis jarang terjadi pada anak – anak. Insiden puncak terjadi pada usia 30 – 50 tahun. Wanita lebih sering dibanding pria. Pada wanita sering terjadi Liken simpleks kronik pada leher belakang saat menopause ( Lichen nuchae ). Pada prurigo nodularis yang berhubungan dengan dermatistis atopik onsetnya lebih dini, 19 – 24 tahun. Pada prurigo nodularis tanpa dermatitis atopik onsetnya 48 – 62 tahun.

IV. ETIOPATOGENESIS
Stimulus yang mendasari terjadinya Liken simpleks kronis dan prurigo nodularis adalah pruritus. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari seperti gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, limfoma hodgkin, hipertiroidia, gluten-sensitiveenteropathy, polisitemia rubra vera, dan infeksi pada HIV. Selain itu juga dapat karena penyakit kulit ( misal : dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi, gigitan serangga, dermatitis stasis ), aspek psikologis dan tekanan emosi.
Pada prurigo nodularis jumlah eosinofil meningkat pada dermis. Eosinofil ini mengandung protein kationik dan protein x ( neurotoxin ), dimana keduanya mampu mendegradasi sel mast. Sel Langerhans ( HLA – DR dan S-100 ) juga bertambah jumlahnya di dermis. Saraf yang berisi CGRP dan SP( substansi yang dapat melepaskan histamin dari sel mast ), juga bertambah pada prurigo nodularis tapi tidak pada liken simpleks kronis.
Ekspresi faktor pertumbuhan saraf p75 pada membran sel schwann dan sel perineurum meningkat, sehingga muungkin menghasilkan hiperplasi neural.

V. GEJALA KLINIS
Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat mengganggu tidur. Rasa gatal tidak terus menerus, biasanya pada waktu sibuk, bila muncul sulit ditahan. Penderita merasa enak bila digaruk, setelah luka baru hilang rasa gatalnya untuk sementara.
Lesi biasanya tunggal, awalnya berupa plak eritematous, sedikit edematous, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan ekskoriasi. Sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit menjadi tidak jelas. Gambaran klinis juga dipengaruhi lokasi dan lamanya lesi.
Letak lesi dapat timbul diman saja, tetapi yang bisa ditemukan di skalp, tengkuk, sampin leher, lengan ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutu, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. Pada lichen nuchae, biasanya squamanya tebalmirip psoriasis.
Variasi klinis liken simplek kronis dapat berupa prurigo nodularis, dengan lesi multipel berbentuk kubah ( dome – shape ) dengan ukuran mulai beberpa milimeter samapi 2 cm, permukaan mengalami erosi dan tertutup skuama, lambat laun menjadi keras dan hiperpigmentasi pasca inflamasi.


VI. HISTOPATOLOGI
Gambaran histopatologisnya dapat berupa ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis ( hiperplasi epidermal ) dengan rete ridges yang memanjang teratur. Ditemukan sebukan sel radang limfosit, makrofag, fibroblast dan histiosit di sekitar pembuluh dermis atas. Pada prurigo nodularis akantosis pada bagian tengah lebih tebal, menonjol lebih tinggi dari permukaan, sel schwann berproliferasi, dan terlihat hiperplasi neural. Kadang jugat terdapat krusta yang menutup sebagian epidermis.

VII. DIAGNOSIS
Diagnosis yang utama berdasarkan efloresensi pada kuit yang terdapat lesi dan biasnya tidak terlau sulit. Namun perlu dipikrkan diferensial diagnosis dari penyakit kulit lain yang memberikan gejala pruritus, misalnya liken planus, liken amiloidosis, psoriasis, dermatofitosis, dan dermatitis atopik. Prurigo nodularis juga harus dibedakan dengan keratoakantoma, hipertropik liken planus, dan penyakit perforasi.

VIII. DIAGNOSIS BANDING
1. Liken planus
2. Liken amiloidosis
3. Psoriasis
4. Dermatofitosis
5. Dermatitis atopik


IX. TERAPI
1. Non Medikamentosa
 Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa garukan akan memperburuk keadaan penyakitnya, maka harus dihindari
 Terapi suportif pada psikologis penderita
2. Medikamentosa
 Antipruritus : dapat berupa antihistamin yang mempunyai efek sedatif ( contoh : hidroksizin, difenhidramin, prometazin ) atau tranquilizer.
 Kortikosteroid potensi kuat, bila perlu ditutup kain impermeabel.
 Kalu masih tidak berhasil, dapat diberikan kortikosterodi intralesi
 Sebagai terapi adjunctive dapat diberikan krim topikal Doxepin 5% dan krim capsaicin jangka pendek : maksimum 8 hari


X. PROGNOSIS
Prognosis tergantung penyakit yang mendasarinya, dan status psikologik penderita.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005. Lichen Simplex Chronicus. Didapat dari www.skin care guide.com

Anonim, 2003. Lichen Simplex Chronicus. Didapat dari www.activeforever.com

Anonim, 2002. Differential diagnosis of Lichen Simplex Chronicus. Didapat dari : www.dermis.com

Anonim, 2001. Lichen Simpleks Chronicus Information. Didapat dari : www.cometicsdiary.com

Burns, Tony et al, 2005. Lecture Notes Dermatology. EMS : Surabaya

Djuanda, Adhi et al, 2006. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FK UI : Jakarta

Fitzpatrick, Thomas B. et al, 1993. Dermatology in General Medicine. Vol 2. 4th ed. USA: McGraw-Hill Book co. p2327-29

Hall, John C,2000. Sauer’s Manual Skin of Diseases 8th Edition. Lipincott Williams and Wilkin Publishers : United States

Laurence, Kinsella et al, 1992. Lichen Simplex Chronicus as Initial Manifestation of Intramedularry Neoplasma and Syringomelia. Didapat dari ; www.neurosurgery,com

Siregar, R. S., 1996. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Editor: Caroline Wijaya, Peter Anugrah. EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar